ketikanjari

"Sederhana, Semoga Bermakna"

Maulidur Rasul dan DIbai’e di Melaka

with 5 comments

Akhirnya saya memiliki waktu, juga kesempatan untuk mengikuti  ceramah Maulidur Rasul di Negeri Jiran ini. Sebelumnya beberapa selebaran yang beredar dari berbagai lembaga atau organisasi, menawarkan banyak kegiatan, seperti pemeriksaan kesehatan gratis, ceramah atau kuliah agama, perlombaan, pawai, dan kegiatan lainnya. Tak satupun dari berbagai kegiatan dapat saya ikuti, meski saya sangat antusias. Salah satunya tentang kuliah pernikahan😀 * Jangan tanya kenapa kuliah pernikahan ada dalam paket acara tersebut. Tanyakan pada panitia. 

Selain waktu yang berbenturan dengan aktivitas riset, tempat yang diselenggarakan juga agak jauh dari kediaman saya. Lagi pula saat ini saya belum memiliki kendaraan pribadi. Perayaan Maulidur Rasul memang bukan hal yang baru, hanya saja saya ingin melihat bagaimana perayaannya di sini.

Well, Informasi ini saya peroleh dari Zul.

21 April 2011, Zul men-tag saya di wall photo salah satu jejaring sosial yang isinya berupa “Ceramah Sambutan Maulidur Rasul Yang Bertepatan Pada Tanggal 23 April 2011, Sabtu Pukul 17.20 (GMT+8)”. Saya mencoba menuliskan komentar dengan Bahasa Melayu yang belum baik namun besar kemungkinan redaksinya benar😀.

“Insya Allah saya ikut. Saya tak punya motosikal1 dan tak tahu dimana lokasinya. Kalau ada yang mau pigi boleh ajak saya sekali”. Komentarpun di-like oleh Zul yang kemudian di-follow up via chatting.

Alhamdulillah Zul dengan senang hati menawarkan untuk pergi bersamanya naik motosikal, Sayapun menyambut kesempatan langka itu. Zul membawa saya menuju Bukit Beruang2 terlebih dahulu sebelum ke lokasi acara. Ternyata ada beberapa temannya juga yang akan mengikuti acara tersebut. Dari penampilan dan attitude, sepertinya mereka pemuda-pemuda yang aktif dalam kegiatan-kegiatan Islam. Mereka mahasiswa undergraduate dan kuliah di UTeM 3. Saya mengamati cara mereka  menyapa ketika bertemu. Diawali dengan mengucapkan salam kemudian menjabat tangan seraya saling merapatkan pipi kanan dan kiri. Zul memperkenalkan saya pada mereka. Kami hanya menjabat tangan tanpa saling merapatkan pipi. Pemandangan merapatkan pipi itu bukan hal yang asing di mata saya, namun asing bagi pipi saya jika melakukannya. Saya yakin mereka paham. Terbukti mereka hanya berjabat tangan saja tanpa saling merapatkan pipi. Setelah semua berkumpul, kami segera berangkat menuju lokasi acara.

Setiba di Lokasi

Setiba di lokasi, kami disuguhkan sebuah roti dan sebotol minuman soya yang dibungkus kantung plastik merah yang telah dipersiapkan oleh panitia. Saya tidak tahu pasti kenapa kantong plastik merah. Apa hanya warna merah saja yang ada di Melaka? Saya belum pernah menjumpai warna kantung plastik selain warna merah kecuali di mydin yang kantung plastiknya mempunyai ciri khas warna putih bertuliskan “Mydin” berwarna biru pada tulisannya.

Pada pekarangan Pejabat JKR Cawangan Kejuruteraan Elektrik-Jalan Taming Sari Melaka, tempat acara dilaksanakan- saya melihat tikar dan sajadah yang telah terbentang di pekarangan kantor tersebut. Tenda-tenda telah didirikan dengan megah. Barisan kursi plastik merah tersusun rapi di bawah tenda-tenda dan menghadap ke arah selatan tempat podium diletakkan. Operator sound system yang berada beberapa meter sebelah kanan podium sibuk dengan kabel-kabelnya. Sebuah projector screen  terbentang. Berhadapan dengan barisan kursi-kursi merah yang sengaja diarahkan ke arah tempat duduk peserta untuk nantinya menampilkan rekaman acara secara langsung.

Tak lama kemudian azan magrib dikumandangkan. Kami menunaikan shalat magrib berjamaah di atas tikar dan sajadah-sajadah yang telah dibentangkan menghadap kiblat. Selesai shalat magrib berjamaah dan shalat sunat, diadakan persembahan Dibai’e yang merupakan bagian dari paket acara. Semua peserta duduk di atas tikar dan sajadah di pekarangan pejabat PKR tempat kami melaksanakan shalat magrib tadinya. Ini pengalaman pertama bagi saya mengikuti Dibai’e. Posisi saya pada barisan ke – 4 dari pemimpin majlis Dibai’e. Zul duduk tepat di sebelah kiri. Dia benar-benar menjaga saya sebagai orang asing. Dia benar-benar memiliki tanggung jawab penuh agar saya tidak terpisah dari rombongan. Sebelumnya ia menanyakan

“kemana tadi tak nampak?” Tadinya kami sempat terpisah di antara para jamaah seusai shalat magrib.

Bukankah ada telepon bimbit4? Zaman memang sudah canggih, namun saya sendiri tidak ingin bergantung 100% pada alat komunikasi, karena bisa saja suatu saat Hp tidak dapat dihubungi, lowbat, terjatuh, rusak atau bahkan hilang sama sekali, juga ribuan alasan lainnya.

Dibai’e-pun mulai dilantunkan. Setelah beberapa saat kemudian diiringi pukulan gendang. Mereka sangat khusyuk melantunkannya. Saya hanya diam dan mendengar saja. Penggalan bacaan yang saya ingat adalah, “ Ya Nabi Salam ‘alaika, Ya Rasul Salam ‘alaika, Shalawatullah ‘alaika”. Tak lama kemudian seorang pria berjubah serba putih dan bertubuh tinggi tiba ke lokasi. Lelaki itu adalah Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid. Beliau yang akan mengisi ceramah malam ini.

Para panitia bergegas menyambut kedatangan beliau. Menyalami, berpelukan, dan lagi-lagi merapatkan pipi kiri dan kanan. Tak ketinggalan anak-anak remaja yang mengenakan jubah dan surban bangun dari duduknya untuk ikut menyambut dan menyalaminya. Meski hanya beberapa lampu sorot yang dikerahkan untuk menerangi, malam itu menjadi pemandangan yang luar biasa. Saya memandang keadaan sekitar.

Melihat tangkai-tangkai pohon yang penuh dengan dedaunan ikut bergerak mengikuti irama Dibai’e. Melihat mereka yang mengenakan jubah serba putih. Menatap anak-anak kecil dengan ikatan surban di kepala mereka, sungguh indah. Terbesit di hati kapan bisa mengenakan jubah serta surban itu. Sudah lama pertanyaan serupa muncul. Rasanya hanya saya seorang yang tidak memakai baju koko atau baju muslim melayu apalagi jubah. Saya mengenakan kaus oblong hitam bertuliskan “climbing” bergambar orang yang sedang memanjat tebing. Tentu saja gambar dan tulisan itu tidak terlihat karena saya mengenakan jaket sehingga tertutupi. Namun saya memakai peci warna putih malam itu😀

Setelah disambut panitia, Habib Ali Zaenal Abidin dipersilahkan bergabung bersama untuk Ikut dalam majlis Dibai’e yang terus berlangsung hingga menjelang Shalat Isya. Jarak duduk saya dengan beliau hanya dibatasi 4 barisan jamaah. Saya dapat melihat wajah beliau dikegelapan malam yang diterangi lampu sorot meski sedikit meyilaukan mata saya. Lelaki berjubah putih itu melantunkan maulid Ad-dibai’e dengan khusyuk.

Tiba-tiba saja, pemimpin majlis yang masih melantunkan maulid Ad-dibai’e berdiri seraya diikuti oleh jamaah lainnya, termasuk saya yang tidak tahu apa-apa juga ikut berdiri. Saya tidak tahu kenapa harus berdiri, apa saja yang harus dibaca dan bagaimana urutannya. Dan, Mengapa ada gendang segala? Saya tidak paham. Hal ini pertama kali untuk saya. Selesai melantunkan Dibai’e, dilanjutkan Shalat Isya, kemudian ceramah maulid Nabi yang merupakan inti acara. Sebelum ceramah, diselingi dengan persembahan qasidah.

 

Isi Ceramah

Ada empat perkara yang dapat dipetik dari ceramah Habib Ali.

Pertama, tunjukkanlah kesempurnaan iman kita kepada Allah dengan mendahulukan hak-hak Allah dan Rasulullah.

Kedua, sempurnakan kalimat La Ila Ha Illallah dengan bersungguh-sungguh mengenali Allah melalui apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, akhlak, cara hidup Rasulullah, dan ibadahnya, karena Rasulullah lebih mengetahui tuntutan Allah.

Ketiga, tanamkan rasa belas kasihan dan rahmat ke dalam hati kita sekuat mungkin dengan memaafkan manusia yang menzalimi kita karena itu adalah akhlak Rasullullah. Diibaratkan seperti orang melempar batu kepada kita dan kita balas kembali dengan lemparan kapas yang lembut.

Keempat, amalkan satu dzikir khusus setiap hari dengan duduk bersimpuh mengingat Allah. Jika mampu, teteskan air mata.

Seusai ceramah peserta dipersembahkan lagi sebuah qasidah dan nasi briyani. Para peserta pria diberikan kesempatan untuk bersalam-salaman dengan beliau.

“Hanya salam-salam saja” kata panitia,

“Tidak boleh berpelukan dan berciuman (merapatkan pipi kanan dan kiri) karena beliau sangat lelah dengan aktivitas yang padat juga lelah menempuh perjalanan hingga ke Melaka” tambahnya.

Sayapun ikut mengambil bagian dan mengantri untuk bersalaman dengan beliau.

 

Nasi Beriyani, Beriani Atau Briani ?

Seusai acara, panitia membagikan nasi beriyani atau nasi minyak. Saya tidak tahu pasti bagaimana penulisannya😀 Nasi itu bentuknya kurus-kurus dan panjang, ditambah daging rendang dengan buah nenas. Rasanya ok banget, sayangnya saya hanya mendapat jatah satu kotak😦 Baru kali ini saya merasakan nasi tersebut.

Kami-saya dan teman-teman- lebih memilih duduk di atas tikar daripada di antara barisan kursi merah itu untuk menikmati nasi beriyani dengan posisi melingkar. Zul duduk di samping kiri saya. Sambil menikmati nasi  beriyani, teman-teman bertanya tentang Aceh, tentang Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam, serta kondisi saya sebagai korban. Tentang Indonesia, mengenai panggilan Mas dan Mbak, yang saya jelaskan bahwa  panggilan tersebut hanya untuk orang-orang di Jawa. Mereka juga bertanya kenapa ada panggilan Kak untuk laki-laki. Saya menjadi narasumber dadakan malam itu😀 Ada hal yang cukup menarik saat mereka membahas dan bertanya tentang film KCB kepada saya. Ya, film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) yang diangkat dari novel best seller karangan Habiburrahman El Shirazy.

“Ada empat orang yang sangat tertarik dengan KCB. Ini, ini dan dua orang itu”, kata teman zul yang duduk disampingnya sembari menunjukkan jarinya  ke arah mereka.

“Mereka berempat selalu membahas KCB kalau berkumpul”, tambahnya lagi. Zul juga melontarkan pertanyaan kepada saya, apakah saya sudah menonton film “Dalam Mihrab Cinta”. Sebenarnya, saya sendiri belum menonton Dalam Mihrab Cinta. Hanya KCB saja yang sudah saya tonton. Beberapa orang anak lajang menyinggung KCB malam itu *Owalah😀

Selesai makan kami foto bersama di depan spanduk untuk mengabadikan momen yang tidak mungkin dapat diulang pada waktu, tempat, kegiatan, orang-orang, acara, juga topik yang sama. Khususnya KCB😀

Saat berdiri untuk foto bersama, saya semakin merasakan keganjilan. Ya, lagi-lagi mengenai pakaian yang saya kenakan malam itu. Semua peserta memakai pakaian muslim melayu. Saya benar-benar saltum (salah kostum). Sebenarnya saya berencana mengenakan baju koko berwarna biru gelap. Sayangnya, ketika saya ambil dari lemari  ternyata baju tersebut belum disetrika. Koko itu kelihatan amat sangat kusut hingga mengalahkan keinginan saya untuk mengenakannya. Itulah seklumit penderitaan keindahan hidup seorang anak lajang😀

Note:

motosikal1 = motor/kendaraan roda dua

Bukit Beruang2 = nama suatu daerah di Melaka, Malaysia

UTeM 3 = Universiti Teknikal Malaysia Melaka

telepon bimbit= Handphone (Hp)

 

Written by ketikanjari

May 21, 2011 at 4:03 am

Posted in Uncategorized

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. pengalaman yang menarik bro,
    justru dengan salah kostum tsb menjadikan pengalamannya tambah unik. hehe…

    ahmadzikra

    June 18, 2011 at 4:32 am

    • hehehe benar juga bro, mungkin salah kostum itu yang menjadikan bikin unik😀

      ketikanjari

      June 18, 2011 at 6:41 am

  2. Wah, menarik sekali cerita mu anak lajang, sesuatu yang mesti dibiasakan untuk di rekam disetiap jejak kaki dimana saja dirimu berada. Suatu ketika, cerita demi cerita ini akan menjadi kenangan tersendiri dikala kita udah tua. Bahkan kumpulannya dapat dijadikan sebuah bukum kumpulan cerita yang tidak banyak dari yang lain melakukannya. Teruslah berkarya sahabat, semoga suatu saat yang tidak terlalu lama akan kami baca tulisannya di saat anda menghabisi masa lajang anda.🙂

    Muttaqin

    June 18, 2011 at 9:00 am

    • wah, saya sangat tersentuh dengan kalimat anda Saudar Muttaqin “Suatu ketika, cerita demi cerita ini akan menjadi kenangan tersendiri dikala kita udah tua. Bahkan kumpulannya dapat dijadikan sebuah bukum kumpulan cerita yang tidak banyak dari yang lain melakukannya. ”
      Insya Allah saya akan menulis cerita2/kisah2/pengalaman2 sebagai aneuk lajang yang tidak mungkin bisa di ulang lagi bila sudah tak melajang😀

      ketikanjari

      June 18, 2011 at 9:18 am

  3. sangat menarik.saya tertarik dengan hasil ketikanjari awak ini.saya rasa awak harus selalu tulis untuk setiap event yang awak pergi luar dari “rumahmu syurgamu iaitu acheh”.kerana dari sini awak belajar sesuatu yang baru kan di tempat orang.dengan adanya hasil ketikanjari ini awak boleh mengingati setiap tempat yang awak da pernah pergi dan apa yang awak dapat di sana.kenangan manis kan.walau saltum…hehe.tiada masalah.tapi lepas ni awak mesti jadi lebih alert dengan kesesuaian tempat dan kesesuaian pakaian kan.saya harap dapat baca pelbagai lagi cerita awak tentang apa-apa sahaja tentang mana-mana tempat seperti adat,budaya,makanan mungkin.gudluck🙂

    Ros

    December 24, 2011 at 11:47 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: