ketikanjari

"Sederhana, Semoga Bermakna"

Iman Warisan

with 3 comments

Tulisan ini merupakan hasil rangkuman saya setelah mendengarkan ceramah di Masjid Bustanul Jannah Ajun, kemukiman Lambaroh, kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.
Tulisan ini saya tulis pada tahun 2009 lalu dan belum pernah saya postingkan sama sekali.
Disela-sela kondisi dalam keadaan kurang sehat saat ini – yang memungkinkan saya beraktivitas di rumah dan tempat tidur – saya menyempatkan untuk mengeditnya dan ingin memposting tulisan ini yang lama tertunda.

Melaka, 9 April 2011
05.10 pm (GMT+8)

=========================

Sesungguhnya agama itu mudah. Agama itu penting sehingga Allah memudahkan agama itu sendiri. Sesuatu yang tidak penting sulit untuk didapatkan. Mutiara adalah sesuatu yang tidak penting, letaknya yang jauh di dalam kerang – di dasar laut – sehingga sulit untuk mendapatkan mutiara tersebut. Udara begitu penting bagi kehidupan manusia. Dalam melakukan pernafasan, kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Jika dalam beberapa jam saja kita tidak dapat menghirup oksigen maka secara syariat kita akan mati. Begitu pentingnya oksigen bagi kita sehingga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan oksigen. Kita tidak perlu bekerja, kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu, kita juga tidak perlu menyewa bodyguard untuk mendapatkan oksigen. Kita juga tidak perlu menyewa 1 kompi aparat keamanan untuk menjaga oksigen yang ada di dunia ini agar tidak di curi.

Agama tidak hanya mudah namun juga lezat. Oksigen hanya mudah untuk kita dapatkan namun kita tidak tahu apakah rasanya manis, asam, asin dsb. Sehingga oksigen hanya mudah namun tidak lezat. Namun, agama telah dimudahkan oleh Allah dan juga lezat. Jika kita dihidangkan makanan yang begitu enak dan lezat dalam keadaan kondisi kita yang tidak sehat atau sakit, maka makanan itu pun menjadi tidak nikmat untuk kita makan.

Dicontohkan, beberapa lelaki yang sedang menebang pohon di tengah hutan, beribu-ribu pohon kayu sanggup mereka tebang, berton-ton balok kayu sanggup mereka angkat. Namun, ketika saat dzhuhur tiba, mereka mendengar suara azan dari masjid yang ada di sekitar atau pinggiran hutan maka mereka tak sanggup untuk mengangkat kedua tangan mereka untuk melakukan takbiratul ihram “Allahu akbar”. Bahkan panggilan azan tersebut mereka jadikan sebagai alarm jam makan siang mereka. “sudah azan, mari kita istirahat dan makan siang”

Dicontohkan, seorang wanita pada musim panen padi, katakanlah jarak rumah mereka dengan sawah mereka 500m, hilir mudik 1000m. mereka mampu mengangkat padi yang dimasukkan ke dalam karung dan mereka letakkan ke atas kepala mereka. Namun, mereka tidak mampu meletakkan/mengenakan jilbab yang begitu ringan untuk menutup kepala/rambut (aurat) mereka.

Kenapa kedua contoh hal di atas terasa sulit untuk mereka kerjakan? Hal ini tidak lain karena Iman mereka sakit.

Iman atau Islam yang kita rasakan selama ini hanyalah Iman warisan, Islam turunan. Kita hanya menang nasib dengan orang-orang Nasrani, Budha dan yang lainnya yang bukan Islam. Kebetulan orang tua kita Islam maka kitapun diwariskan dalam keadaan Islam.

Kita lihat orang-orang yang merayakan kemerdekaan suatu Negara, mereka – para pejuang kemerdekaan – yang masih hidup merayakan kemerdekaan dengan rasa syukur. Teringat disaat mereka berpisah dengan anak dan istri, tinggal di hutan belantara, makan dedaunan untuk bertahan hidup demi memperjuangkan kemerdekaan. Mereka berdoa “ya Allah jangan kau biarkan kami ini terus dijajah”

Bagaimana mereka – yang bukan pejuang kemerdekaan – mereka yang hanya diwariskan kemerdekaan, merayakan kemerdekaan dengan berbagai permainan. Mereka masukkan anak-anak ke dalam karung goni kemudian disuruh berlari, mereka lumuri batang pinang dengan gemuk, dipanjat kemudian jatuh, dipanjat lagi jatuh lagi dan seterusnya. Inilah arti kemerdekaan bagi mereka, kemerdekaan hanyalah sebuah permainan bagi mereka yang hanya diwarisi kemerdekaan.
Agamapun kini menjadi mainan bagi mereka yang merasakan Iman/Islam sebagai warisan.

Sesuatu yang didapatkan dari perjuangan, pengorbanan akan lebih melekat dan berharga bagi diri seseorang. Karena itu kita perlu berkorban demi agama Allah.

Written by ketikanjari

April 9, 2011 at 9:44 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hmm…

    Baru denger istilah “Mutiara adalah sesuatu yang tidak penting”, cuz, biasanya ada pepatah yang mengatakan, jadilah engkau permata yang indah, namun sulit didapat🙂

    Nice post… ^^

    Salam kenal juga🙂

    ditmaniez

    June 28, 2011 at 12:17 pm

  2. hmm…
    “jadilah engkau permata yang indah, namun sulit didapat ”
    barangkali yang dimaksud pepatah itu adalah kepribadian sedangkan yang dimaksud mutiara disini materi🙂

    terimakasih telah berkunjung😉

    ketikanjari

    June 28, 2011 at 1:50 pm

  3. ^_^ . . .

    sama-sama ukh/akh…

    ditmaniez

    June 28, 2011 at 5:02 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: